Refleksi 2 Mei 2011

Oleh : Muh Sutrisno

Sang Pencerah

Leluhur Para Guru

Tahukah kita bahwa pendidikan di Indonesia telah relatif lama keberlangsungannya. Kalaulah dihitung dari berdirinya Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, Tanggal 3 Juli 1922 maka sudah 89 tahun adanya. Hampir satu abad atau seratus tahun ternyata. Tapi apakah nilai dasar pendidikan di era sekarang ini masih mencerminkan motto taman siswa  yang terkenal itu ? Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani?

                Ketika seorang guru sedang berada di depan murid-muridnya ( dalam makna sesungguhnya ataupun kias),  sosok guru adalah sentral pandangan sang siswa, fokus perhatian siswa. Dalam bahasa sekarang sang guru adalah publik figur di mata para siswa. Konsekuensinya , mata siswa akan tak jemu-jemunya memandangi / memperhatikan tingkah polah,sikap perilaku guru. Meski tidak selamanya siswa akan mengidolakan sang guru, tapi tetap guru adalah sorotan utama. Ketika inilah sosok guru akan menjadi titik krusial apakah guru saat itu menjadi contoh teladan yang baik ataukah sebaliknya. Secara psikologi tidak menutup kemungkinan ada peniruan karakter oleh anak didik. Oleh karena itu di depan siswa, guru  harusnya memberikan keteladanan.Keteladanan  yang baik tentunya. Salah satunya adalah bersikap jujur. Ya, Jujur pada kemampuan sendiri. ING NGARSO SUNG TULODO.

                Saat para anak didik sudah tidak bersemangat lagi untuk belajar, sikap guru yang ideal adalah terus mengobarkan daya juang agar siswa terus bersemangat dalam menempuh pendidikan. Di tengah-tengah para siswanya sang guru sanggup menjadi pengobar api-api yang mulai padam diterpa angin. Banyaknya para anak didik yang gugur semangatnya tak menyurutkan idealisme guru sebagai pendidik. Namun sayang, guru juga manusia. Terkadang justru semangat guru itu sendiri menjadi loyo dan melempem seperti krupuk terkena air. Hancur lebur jadi bubur, padahal mestinya tetap fress dan crispy. Bukan tanpa sebab hal ini. Faktor ekonomi, politik dan kebijakan, serta kepentingan sesaat terkadang akan memudarkan, mengikis habis hati nurani sebagai pendidik. Oleh karena itu mestinya pendidikan adalah independen tanpa terkungkung oleh skema politik praktis, tidak bertujuan instan dan yang paling penting  adalah terjaminya material ekonomi mapan sang pendidik. Memang sangat susah membuktikan–membutuhkan penelitian- tentang hubungan faktor penyebab itu, tapi paling tidak jaman sudah berkembang dan pendidikan tidak lagi menjadi kotak amal yang pahalanya dijanjikan di surga! ING MADYA MANGUN KARSO.

                Bila halnya si anak didik memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada sang guru ,hal ini sudah sepatutnyalah dianggap sebagai kewajaran. Bukan sebuah pelecehan bagi sang guru. Di era digital ini guru bisa jadi akan tertinggal dengan anak didik yang nota bene dilahirkan sudah bisa memainkan games-games komputer.Sementara itu si guru lahir pada jaman dakon dan main petak umpet. Sikap guru yang baik adalah menjadi motivator atau bahkan sebagai fasilator. Pendorong motifasi dan sebagai pemudah bagi perkembangan belajar  anak didik. Si anak didik terus kita dorong untuk menggali dan menggali ilmu dari berbagai sumber sebanyak mungkin sambil sesekali kita arahkan bila akan jauh menyimpang. Boleh saja guru sebagai peran nara sumber dalam hal ini, akan tergantikan oleh media digital IPTEK, namun peran pendidik tidak akan pernah tergantikan.  Boleh saja Hand Phone, Televisi, Internet dan komputer memberikan sumber-sumber dan pengetahuan  lebih bagi siswa , tapi unsur selektif untuk mengetahui mana yang baik dan buruh masih dibutuhkan peran sang guru. Kita ikuti kemauan siswa sebagai bagian dari perkembangan jaman, tapi tetap katakan mana yang baik itu baik dan yang jelek itu  jelek. Syukur –syukur para guru juga berminat untuk belajar IPTEK agar tidak GAGAP IPTEK.TUT WURI HANDAYANI!

Faktanya,ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KARSO,TUT WURI HANDAYANI, i terasa masih fleksibel pada masa pendidikan modern di era sekarang ini.Pantas, Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, Ki Hajar Dewantara yang nama kecilnya Soewardi  Suryaningrat dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). SELAMAT MERAYAKAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL,SEMOGA PENDIDIKAN INDONESIA TAMBAH MAJU DAN BERMUTU! Terima kasih Leluhurku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s